Dokter Peter Ian Limas mendedikasikan ilmu dan pengalamannya demi menyediakan akses cepat dan mudah untuk menangani kebutuhan terapi lanjutan bagi pasien obesitas, GERD dengan kemampuan bedah minimal invasif yang teliti dan diakui secara nasional serta internasional.






GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) adalah kondisi kronis di mana asam lambung naik ke kerongkongan, menyebabkan gejala seperti nyeri dada, mulas, dan sulit menelan. Penyebabnya termasuk katup esofagus yang lemah, obesitas, stres, serta konsumsi makanan berlemak, pedas, atau kafein. Pengobatan meliputi perubahan pola makan, gaya hidup sehat, obat-obatan, dan dalam kasus parah, prosedur medis. Jika tidak ditangani, GERD dapat menyebabkan komplikasi serius seperti esofagitis, ulkus, atau bahkan kanker esofagus.
GERD Refrakter terjadi ketika pasien tetap mengalami gejala refluks meskipun menjalani terapi obat penekan asam lambung maksimal. Sekitar 10-40% pasien tidak merespon pengobatan sepenuhnya, seringkali karena refluks nonerosif (NERD) atau functional heartburn. Gejala GERD bisa tipikal (heartburn) atau atipikal (batuk, asma, radang sinus). Selain gejala, kekhawatiran efek obat juga memengaruhi kualitas hidup. Jika terapi obat gagal, solusi efektif adalah prosedur bedah minimal invasif LARS (Laparoscopic Antireflux Surgery).
GERD dapat diatasi dengan perubahan gaya hidup, pola makan, obat-obatan, atau pembedahan. Jika perubahan gaya hidup seperti menghindari makanan pedas, menurunkan berat badan, dan berhenti merokok tidak efektif, dokter mungkin menyarankan obat atau operasi. Metode bedah minimal invasif yang umum adalah LARS (Laparoscopic Antireflux Surgery), yang memperkuat katup LES untuk mencegah refluks. Dibandingkan pembedahan terbuka, LARS memberikan pemulihan lebih cepat, mengurangi rasa sakit, dan memungkinkan pasien kembali beraktivitas lebih cepat.
GERD dapat diatasi dengan perubahan gaya hidup, pola makan, obat-obatan, atau pembedahan. Menghindari makanan pedas, menurunkan berat badan, berhenti merokok, serta tidur dengan kepala lebih tinggi dapat membantu meredakan gejala. Jika langkah ini tidak efektif, dokter mungkin menyarankan obat atau prosedur bedah minimal invasif seperti Laparoscopic Antireflux Surgery (LARS). Teknik ini memperkuat katup LES untuk mencegah refluks, memberikan pemulihan lebih cepat, mengurangi rasa sakit, dan memungkinkan pasien kembali beraktivitas lebih cepat.
GERD dapat diatasi dengan perubahan gaya hidup, pola makan, obat-obatan, dan pembedahan. Untuk mencegah GERD, hindari makanan pedas dan berlemak, kurangi berat badan, berhenti merokok dan mengonsumsi alkohol, serta duduk atau berdiri setelah makan. Tidur dengan kepala lebih tinggi jika gejala muncul malam hari. Jika tidak berhasil, tindakan bedah minimal invasif seperti LARS (Laparoscopic Antireflux Surgery) dapat dilakukan. Teknik ini memperkuat katup LES untuk mencegah cairan lambung mengalir kembali. Metode ini lebih cepat pemulihannya dan mengurangi rasa sakit pasca-operasi.
GERD akibat hernia hiatal terjadi ketika sebagian lambung bergerak ke atas melalui diafragma ke dalam rongga dada, menyebabkan katup LES (Lower Esophageal Sphincter) tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, asam lambung bisa naik ke esofagus, memicu gejala GERD seperti heartburn dan regurgitasi. Hernia hiatal memperburuk kondisi ini dengan melemahkan penghalang alami antara lambung dan esofagus, sehingga meningkatkan risiko refluks asam. Pengobatan dapat meliputi perubahan gaya hidup, obat-obatan, atau pembedahan untuk memperbaiki posisi lambung.
Dokter Peter adalah founder dari Digestihealth Bariatrics.
| Direct Contact: | 0812 1030 0098 |

Copyright PT Digestihealth Sana Sejahtera 2026. All rights reserved.