Dokter Peter Ian Limas mendedikasikan ilmu dan pengalamannya demi menyediakan akses cepat dan mudah untuk menangani kebutuhan terapi lanjutan bagi pasien obesitas, GERD dengan kemampuan bedah minimal invasif yang teliti dan diakui secara nasional serta internasional.

Our Galleries

Cara Menghitung BMI untuk Mengetahui Apakah Anda Obesitas

Cara Menghitung BMI untuk Mengetahui Apakah Anda Obesitas

Pernah naik timbangan lalu langsung mikir, “Ini sebenarnya berat badan saya masih normal atau sudah berlebihan?”

Angka di timbangan memang bisa memberi gambaran, tetapi tanpa melihat tinggi badan, angka itu belum banyak bercerita. Berat 70 kg bisa termasuk normal untuk seseorang dengan tinggi tertentu, tetapi bisa berbeda maknanya pada orang yang lebih pendek.

Di sinilah BMI atau Body Mass Index, yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Indeks Massa Tubuh (IMT), sering digunakan.

Cara menghitungnya sebenarnya sederhana. Tidak perlu alat khusus atau aplikasi rumit. Cukup berat badan dan tinggi badan. Namun, ada satu hal penting: hasil BMI sebaiknya tidak dibaca sebagai diagnosis kesehatan secara otomatis. BMI adalah alat skrining, bukan satu-satunya penentu apakah seseorang sehat atau mengalami obesitas.

Ringkasan Cepat

  • BMI atau IMT dihitung dari berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat.
  • Untuk orang dewasa, kategori BMI dapat digunakan sebagai gambaran awal status berat badan.
  • Kementerian Kesehatan menggunakan ambang IMT ≥27 kg/m² untuk obesitas dalam klasifikasi status gizi dewasa di Indonesia.
  • WHO secara umum menggunakan BMI ≥30 kg/m² sebagai obesitas pada orang dewasa.
  • BMI tidak membedakan lemak dan massa otot, sehingga sebaiknya dilihat bersama lingkar pinggang dan faktor kesehatan lainnya.

Apa Itu BMI atau IMT?

BMI adalah angka yang menggambarkan hubungan antara berat badan dan tinggi badan.

Rumusnya:

BMI = berat badan (kg) ÷ [tinggi badan (m) × tinggi badan (m)]

Misalnya, seseorang memiliki berat badan 80 kg dan tinggi 170 cm.

Karena tinggi harus diubah menjadi meter:

170 cm = 1,70 m

Maka:

BMI = 80 ÷ (1,70 × 1,70)
BMI = 27,7 kg/m²

Nah, dari angka tersebut kita bisa melihat kategori berat badan berdasarkan acuan yang digunakan.

Kementerian Kesehatan Indonesia dalam hasil SKI 2023 menggunakan kategori dewasa sebagai berikut:

Kategori BMI/IMT
Kurang berat badan < 18,5
Normal 18,5 – <25
Overweight 25 – <27
Obesitas ≥27

Jadi pada contoh 80 kg dan tinggi 170 cm tadi, BMI sekitar 27,7 masuk kategori obesitas berdasarkan klasifikasi yang digunakan Kementerian Kesehatan Indonesia.

Cara Menghitung BMI dengan Benar

Kelihatannya gampang, tetapi ada beberapa kesalahan kecil yang cukup sering terjadi.

1. Pastikan Tinggi Badan dalam Meter

Ini yang paling umum.

Kalau tinggi Anda 165 cm, jangan langsung memasukkan angka 165 ke rumus.

Ubah terlebih dahulu:

165 cm = 1,65 m

Kemudian kuadratkan:

1,65 × 1,65 = 2,7225

Misalnya berat badan 70 kg:

70 ÷ 2,7225 = 25,7 kg/m²

Artinya, berdasarkan klasifikasi Kementerian Kesehatan, hasil tersebut masuk kategori overweight.

2. Gunakan Berat Badan yang Terukur

Kalau ingin mendapatkan hasil yang lebih konsisten, timbang badan pada kondisi yang relatif sama. Misalnya pada pagi hari, setelah buang air kecil, sebelum sarapan, dan menggunakan pakaian yang ringan.

Tidak perlu menimbang lima kali sehari.

Berat badan memang bisa berubah karena cairan tubuh, makanan, dan waktu pengukuran. Yang lebih berguna justru melihat tren dari waktu ke waktu, bukan panik karena angka naik 0,8 kg dari kemarin.

Cara Mengetahui Apakah BMI Termasuk Obesitas

Di sinilah kita perlu sedikit berhati-hati karena Anda mungkin menemukan angka yang berbeda ketika mencari informasi BMI di internet.

WHO secara umum mengategorikan orang dewasa dengan BMI 25 atau lebih sebagai overweight dan 30 atau lebih sebagai obesitas.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Indonesia menggunakan BMI ≥27 kg/m² sebagai kategori obesitas pada klasifikasi status gizi dewasa yang digunakan dalam SKI 2023.

Jadi kalau Anda menemukan artikel yang mengatakan “BMI 30 baru obesitas”, jangan langsung menganggap informasi dengan ambang 27 pasti salah. Konteks populasi dan klasifikasi yang digunakan memang bisa berbeda.

Untuk pembaca di Indonesia, menggunakan klasifikasi yang dirujuk Kementerian Kesehatan tentu lebih relevan ketika melakukan skrining awal.

Contoh Menghitung BMI Berdasarkan Berat dan Tinggi

Supaya lebih gampang dibayangkan, coba lihat beberapa contoh berikut.

Berat Tinggi BMI Kategori Indonesia
50 kg 1,65 m 18,4 Kurang berat badan
60 kg 1,65 m 22,0 Normal
68 kg 1,65 m 25,0 Overweight
74 kg 1,65 m 27,2 Obesitas
85 kg 1,70 m 29,4 Obesitas

Angka tersebut hanya contoh perhitungan. Status kesehatan seseorang tidak bisa ditentukan dari tabel BMI saja.

Apakah BMI Bisa Menentukan Obesitas Secara Akurat?

Tidak selalu.

BMI memang praktis dan murah sehingga banyak digunakan sebagai alat skrining. Tetapi BMI tidak mengukur lemak tubuh secara langsung dan tidak bisa membedakan berat yang berasal dari lemak, otot, maupun tulang.

Bayangkan seorang atlet dengan massa otot besar. Berat badannya mungkin cukup tinggi sehingga BMI masuk kategori overweight atau bahkan obesitas, padahal komposisi lemak tubuhnya belum tentu menunjukkan kondisi yang sama.

Sebaliknya, seseorang bisa memiliki BMI yang tidak terlalu tinggi tetapi menyimpan cukup banyak lemak di area perut.

Karena itu, angka BMI sebaiknya dianggap sebagai lampu indikator, bukan keputusan akhir.

BMI dan Lingkar Pinggang Sebaiknya Dilihat Bersama

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, lingkar pinggang juga bisa diperiksa karena dapat memberikan informasi mengenai penumpukan lemak di area perut.

Dalam pedoman Kementerian Kesehatan yang menggunakan klasifikasi Asia Pasifik, lingkar pinggang lebih dari 90 cm pada laki-laki dan lebih dari 80 cm pada perempuan digunakan sebagai salah satu batas obesitas sentral.

Ini penting karena lemak yang menumpuk di sekitar perut berkaitan dengan risiko metabolik.

Jadi, kalau Anda sedang mengevaluasi berat badan, jangan cuma bertanya, “BMI saya berapa?”

Pertanyaan yang lebih berguna adalah, “BMI saya berapa, lingkar pinggang saya berapa, dan bagaimana kondisi kesehatan saya secara keseluruhan?”

BMI untuk Anak dan Remaja Berbeda

Rumus BMI memang tetap menggunakan berat dan tinggi badan, tetapi cara membaca hasilnya tidak sama seperti orang dewasa.

Pada anak dan remaja, BMI perlu dibandingkan dengan usia dan jenis kelamin, biasanya menggunakan kurva pertumbuhan atau persentil yang sesuai. WHO dan CDC sama-sama menekankan bahwa kategori BMI anak berbeda dari kategori orang dewasa.

Jadi, jangan mengambil tabel BMI orang dewasa lalu menggunakannya untuk menentukan apakah anak mengalami obesitas.

Untuk anak atau remaja, sebaiknya gunakan penilaian dari dokter atau tenaga kesehatan.

Apa yang Harus Dilakukan Jika BMI Menunjukkan Obesitas?

Pertama, jangan langsung panik.

Angka BMI bukan vonis. Justru angka tersebut bisa menjadi alasan yang bagus untuk mulai mengevaluasi kebiasaan dan kondisi kesehatan.

Coba lihat beberapa hal berikut:

  • Bagaimana pola makan sehari-hari?
  • Seberapa sering mengonsumsi minuman manis?
  • Apakah aktivitas fisik cukup?
  • Bagaimana kualitas tidur?
  • Apakah lingkar pinggang meningkat?
  • Apakah ada tekanan darah tinggi atau gula darah yang bermasalah?
  • Apakah berat badan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir?

Kalau hasil BMI berada pada kategori obesitas, terutama bila disertai keluhan atau faktor risiko penyakit tertentu, konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan bisa membantu menentukan langkah berikutnya.

Tidak harus langsung diet ketat.

Kadang langkah pertama justru sesederhana mengganti kebiasaan minum minuman manis setiap hari, berjalan kaki lebih rutin, memperbaiki porsi makan, atau mencari tahu mengapa Anda selalu lapar pada malam hari.

Jangan Terlalu Terpaku pada Satu Angka

Ini mungkin bagian yang paling penting dari pembahasan BMI.

Angka di timbangan dan angka BMI memang berguna. Tapi tubuh manusia jauh lebih kompleks daripada satu rumus.

Dua orang bisa memiliki BMI yang sama, tetapi komposisi tubuh, distribusi lemak, kebiasaan hidup, tekanan darah, kadar gula darah, dan kondisi kesehatannya berbeda.

Karena itu, saya lebih menyarankan melihat BMI sebagai titik awal untuk mengenal kondisi tubuh, bukan sebagai nilai yang menentukan apakah Anda “sehat” atau “tidak sehat”.

Kalau hasilnya tinggi, tidak perlu merasa gagal. Anggap saja itu informasi tambahan yang memberi tahu bahwa ada sesuatu yang layak diperhatikan.

Cara menghitung BMI cukup sederhana, yaitu membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter yang dikuadratkan. Hasilnya dapat digunakan untuk melakukan skrining awal status berat badan. Di Indonesia, klasifikasi Kementerian Kesehatan menggunakan IMT ≥27 kg/m² sebagai obesitas pada orang dewasa, sementara WHO menggunakan ambang ≥30 kg/m² secara umum. Namun, BMI bukan diagnosis dan sebaiknya tidak digunakan sendirian. Lingkar pinggang, komposisi tubuh, tekanan darah, kadar gula, riwayat kesehatan, serta kebiasaan sehari-hari juga perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh.

Leave A Comment