Obesitas Tingkat 1 2 dan 3 Apa Perbedaannya?

Obesitas Tingkat 1 2 dan 3 Apa Perbedaannya?

Pernah menghitung BMI lalu mendapatkan angka yang ternyata masuk kategori obesitas? Biasanya pertanyaan berikutnya langsung muncul, “Kalau begitu saya obesitas tingkat berapa?”

Istilah obesitas tingkat 1, 2, dan 3 memang cukup sering digunakan ketika membahas tingkat keparahan obesitas. Pembagiannya didasarkan pada nilai BMI atau IMT, sehingga semakin tinggi angkanya, semakin besar pula perhatian yang perlu diberikan terhadap kondisi kesehatan.

Tapi ada satu hal yang sering terlewat. Angka BMI bukanlah satu-satunya cerita tentang tubuh seseorang. Dua orang bisa memiliki BMI sama, tetapi kondisi metabolik, lingkar pinggang, massa otot, tekanan darah, dan risiko penyakitnya berbeda.

Jadi, jangan langsung menganggap angka di kalkulator BMI sebagai “vonis”. Anggap saja sebagai sinyal untuk melihat kondisi tubuh lebih jauh.

Ringkasan Cepat

  • Obesitas tingkat 1 memiliki BMI 30–34,9 kg/m².
  • Obesitas tingkat 2 memiliki BMI 35–39,9 kg/m².
  • Obesitas tingkat 3 memiliki BMI ≥40 kg/m².
  • Semakin tinggi tingkat obesitas, risiko berbagai masalah kesehatan cenderung meningkat.
  • BMI tetap merupakan alat skrining, bukan satu-satunya cara menentukan kondisi kesehatan.
  • Untuk anak dan remaja, penilaian obesitas tidak menggunakan batas BMI dewasa secara langsung karena harus mempertimbangkan usia dan jenis kelamin.

Apa Arti Obesitas Tingkat 1 2 dan 3?

Pembagian tingkat obesitas terutama digunakan untuk menggambarkan rentang BMI pada orang dewasa.

Menurut klasifikasi WHO, obesitas dimulai dari BMI 30 kg/m² dan dibagi menjadi tiga kelas.

Tingkat obesitasBMI dewasaGambaran umum
Obesitas tingkat 130–34,9Obesitas kelas I
Obesitas tingkat 235–39,9Obesitas kelas II
Obesitas tingkat 3≥40Obesitas kelas III

Istilahnya bisa berbeda sedikit. Ada yang menyebut obesitas kelas 1, ada pula yang menyebut obesitas tingkat 1. Maksudnya pada dasarnya sama.

Yang perlu diperhatikan adalah klasifikasi ini merupakan kategori BMI, bukan ukuran langsung jumlah lemak tubuh.

Obesitas Tingkat 1 dan Risikonya

Apa Itu Obesitas Tingkat 1?

Obesitas tingkat 1 berada pada BMI 30 hingga kurang dari 35 kg/m².

Misalnya seseorang memiliki berat 90 kg dan tinggi 1,70 meter.

Rumusnya:

BMI = 90 ÷ (1,70 × 1,70)

Hasilnya sekitar 31,1 kg/m², sehingga masuk obesitas tingkat 1 berdasarkan klasifikasi WHO.

Pada tahap ini, bukan berarti seseorang pasti mengalami penyakit akibat obesitas. Namun risiko beberapa masalah kesehatan mulai menjadi perhatian, termasuk diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, gangguan tidur, dan masalah pada persendian. Obesitas secara umum memang berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit kronis.

Justru di tahap seperti ini, menurut saya, jangan menunggu sampai tubuh mulai “protes”.

Perubahan kecil yang dilakukan sekarang bisa jauh lebih masuk akal dibanding menunggu kondisi semakin sulit ditangani.

Obesitas Tingkat 2 dan Risikonya

Apa Itu Obesitas Tingkat 2?

Obesitas tingkat 2 berada pada BMI 35 hingga kurang dari 40 kg/m².

Pada rentang ini, risiko kesehatan cenderung semakin besar dibandingkan BMI yang lebih rendah. Penelitian besar yang dirujuk IARC/WHO juga menunjukkan hubungan antara kelas obesitas yang lebih tinggi dengan peningkatan risiko kematian secara keseluruhan.

Namun sekali lagi, angka tersebut bukan berarti seseorang dengan BMI 36 pasti akan mengalami penyakit tertentu.

Kondisi setiap orang berbeda.

Misalnya, seseorang mungkin sudah mengalami tekanan darah tinggi dan sleep apnea, sementara orang lain dengan BMI serupa belum memiliki diagnosis tersebut. Karena itu, pemeriksaan kesehatan tetap diperlukan untuk melihat gambaran sebenarnya.

Obesitas Tingkat 3 dan Apa yang Membuatnya Berbeda

Apa Itu Obesitas Tingkat 3?

Obesitas tingkat 3 adalah kategori dengan BMI 40 kg/m² atau lebih.

Ini sering disebut juga severe obesity, morbid obesity, atau obesitas kelas III dalam berbagai sumber medis.

Pada rentang ini, perhatian medis biasanya menjadi semakin penting karena risiko komplikasi terkait obesitas dapat meningkat. Data IARC menunjukkan bahwa risiko kematian dalam kelompok obesitas meningkat seiring kenaikan kelas BMI, meskipun angka BMI tetap tidak bisa digunakan sendirian untuk memprediksi kondisi seseorang.

Pada sebagian orang dengan obesitas berat, aktivitas sederhana juga mulai terasa lebih sulit. Jalan agak jauh bisa membuat cepat lelah. Naik tangga terasa berat. Tidur mungkin terganggu. Nyeri lutut pun bisa semakin sering muncul.

Masalahnya kemudian menjadi seperti lingkaran.

Berat badan membuat bergerak lebih sulit, aktivitas berkurang, lalu berat badan semakin sulit dikendalikan.

Di kondisi seperti ini, pendekatan medis yang lebih komprehensif bisa dibutuhkan.

Apakah Obesitas Tingkat 1 Lebih Aman daripada Tingkat 3?

Secara umum, semakin tinggi BMI, semakin besar pula risiko berbagai penyakit terkait obesitas. Tetapi kata “lebih aman” sebaiknya tidak dipahami sebagai tingkat 1 berarti tidak berbahaya.

Obesitas tingkat 1 tetap merupakan kondisi yang perlu diperhatikan.

WHO menyebut obesitas sebagai penumpukan lemak berlebih yang dapat mengganggu kesehatan dan mengaitkannya dengan berbagai penyakit tidak menular, termasuk penyakit kardiovaskular, diabetes, serta masalah muskuloskeletal.

Jadi, jangan menunggu sampai BMI mencapai 40 baru merasa perlu melakukan sesuatu.

Kalau sudah berada di tingkat 1, itu justru kesempatan bagus untuk mulai memperbaiki kondisi sebelum masalah berkembang lebih jauh.

Cara Mengetahui Tingkat Obesitas dari BMI

Cara menghitung BMI cukup sederhana:

BMI = berat badan (kg) ÷ tinggi badan² (m)

Contoh seseorang memiliki:

  • Berat badan: 100 kg
  • Tinggi badan: 1,70 m

Maka:

100 ÷ (1,70 × 1,70) = 34,6 kg/m²

Hasil tersebut termasuk obesitas tingkat 1 menurut klasifikasi WHO.

Tetapi jangan berhenti pada angka tersebut.

BMI Bukan Satu-Satunya Ukuran

BMI tidak mengukur lemak tubuh secara langsung. Seseorang dengan massa otot sangat besar bisa memiliki BMI tinggi tanpa memiliki jumlah lemak tubuh yang sama seperti orang lain dengan BMI identik.

WHO juga menyebutkan bahwa pengukuran tambahan seperti lingkar pinggang dapat membantu memberikan gambaran mengenai obesitas dan penumpukan lemak tubuh.

Karena itu, dokter dapat mempertimbangkan:

  • BMI
  • Lingkar pinggang
  • Tekanan darah
  • Gula darah
  • Profil kolesterol
  • Riwayat penyakit
  • Pola makan dan aktivitas fisik
  • Kualitas tidur
  • Kondisi kesehatan lainnya

Nah, kombinasi informasi tersebut jauh lebih berguna daripada sekadar berkata, “BMI saya 33 berarti saya begini.”

Bagaimana dengan Klasifikasi Obesitas di Indonesia?

Ini bagian yang cukup penting karena Anda mungkin menemukan angka yang berbeda ketika mencari informasi di internet.

Dalam SKI 2023, Kementerian Kesehatan Indonesia menggunakan IMT ≥27 kg/m² sebagai kategori obesitas pada penduduk dewasa di atas 18 tahun. Kategori tersebut berbeda dari batas obesitas WHO yang dimulai pada BMI 30 kg/m².

Artinya, ketika membahas obesitas di Indonesia, jangan langsung mencampurkan semua tabel BMI dari berbagai sumber.

Untuk pembagian tingkat 1, 2, dan 3, angka 30–34,9, 35–39,9, dan ≥40 merupakan klasifikasi kelas obesitas yang umum digunakan dalam sistem WHO. Sementara klasifikasi operasional Kemenkes Indonesia untuk skrining obesitas dewasa menggunakan ambang ≥27 dan tidak membagi obesitas menjadi tiga tingkat pada tabel SKI tersebut.

Ini bukan sekadar perbedaan angka. Konteks populasi dan tujuan klasifikasinya memang perlu diperhatikan.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Obesitas?

Tidak perlu langsung melakukan diet ekstrem.

Langkah pertama justru mencari tahu kondisi sebenarnya.

Kalau BMI masuk obesitas, coba perhatikan pola selama beberapa bulan terakhir. Apakah berat badan terus naik? Apakah lingkar pinggang bertambah? Apakah mudah lelah? Bagaimana tekanan darah dan gula darah?

Kemudian, mulai dari perubahan yang realistis.

Misalnya mengurangi minuman tinggi gula yang dikonsumsi setiap hari, memperbaiki porsi makan, memperbanyak aktivitas harian, memperbaiki jam tidur, atau mencari bantuan ahli gizi jika sulit menentukan pola makan yang sesuai.

Untuk obesitas tingkat 2 atau 3, terutama bila sudah disertai penyakit seperti diabetes, hipertensi, sleep apnea, atau gangguan mobilitas, sebaiknya jangan hanya mengandalkan usaha sendiri. Dokter dapat menilai apakah diperlukan penanganan yang lebih intensif, termasuk obat atau pilihan terapi obesitas lainnya.

Dan ya, bedah bariatrik juga dapat menjadi salah satu pilihan pada pasien tertentu. Tetapi keputusan tersebut membutuhkan evaluasi medis, bukan sekadar melihat angka BMI.

Obesitas tingkat 1, 2, dan 3 dibedakan terutama berdasarkan nilai BMI, yaitu 30–34,9 kg/m² untuk tingkat 1, 35–39,9 kg/m² untuk tingkat 2, dan ≥40 kg/m² untuk tingkat 3. Semakin tinggi tingkat obesitas, risiko berbagai masalah kesehatan cenderung meningkat. Meski begitu, BMI bukan diagnosis yang berdiri sendiri. Lingkar pinggang, kondisi metabolik, riwayat kesehatan, aktivitas, tidur, dan faktor lainnya tetap perlu dipertimbangkan. Jadi, kalau hasil BMI sudah menunjukkan obesitas, jangan melihatnya sebagai label yang menakutkan. Jadikan angka tersebut sebagai alasan untuk mulai memahami kondisi tubuh dan mencari penanganan yang tepat.

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top