Pernah merasa sudah mencoba diet berkali-kali, olahraga juga sudah, tapi berat badan tetap naik-turun seperti roller coaster? Belum lagi kalau berat badan mulai ikut membawa masalah lain: gula darah sulit dikontrol, tidur terganggu karena sleep apnea, lutut cepat sakit, atau aktivitas sederhana jadi terasa lebih berat.
Di kondisi seperti ini, operasi bariatrik kadang mulai muncul sebagai pilihan. Tapi ada satu hal yang sering disalahpahami: operasi bariatrik bukan sekadar jalan pintas untuk menurunkan berat badan.
Ada kriteria medis, kondisi kesehatan, dan kesiapan pasien yang perlu dipertimbangkan. Jadi, siapa sebenarnya yang cocok menjalani operasi bariatrik?
Ringkasan Cepat
- Operasi bariatrik terutama ditujukan untuk orang dengan obesitas yang sudah berdampak pada kesehatan.
- BMI menjadi salah satu pertimbangan utama, tetapi bukan satu-satunya faktor.
- Pedoman ASMBS/IFSO merekomendasikan operasi pada BMI ≥35 kg/m² dan mempertimbangkannya pada BMI 30–34,9 kg/m² dalam kondisi tertentu.
- Penyakit seperti diabetes tipe 2, sleep apnea, hipertensi, dan masalah metabolik dapat memperkuat alasan medis untuk mempertimbangkan operasi.
- Kesiapan menjalani perubahan pola makan, kontrol rutin, serta konsumsi vitamin dan mineral seumur hidup sama pentingnya dengan angka di timbangan.
Siapa yang Cocok Menjalani Operasi Bariatrik?
Secara sederhana, kandidat operasi bariatrik biasanya adalah orang dengan obesitas yang sulit ditangani secara efektif dengan metode nonoperasi dan membutuhkan intervensi yang lebih kuat.
Namun, dokter tidak hanya melihat angka berat badan.
Pedoman internasional terbaru dari American Society for Metabolic and Bariatric Surgery (ASMBS) dan International Federation for the Surgery of Obesity and Metabolic Disorders (IFSO) merekomendasikan metabolic and bariatric surgery pada orang dengan BMI ≥35 kg/m², bahkan tanpa penyakit penyerta tertentu. Pada BMI 30–34,9 kg/m², operasi juga dapat dipertimbangkan dalam kondisi tertentu, terutama bila terdapat penyakit metabolik atau upaya nonbedah tidak memberikan hasil yang cukup.
Jadi, angka BMI memang penting. Tapi keputusan akhirnya jauh lebih personal.
Kandidat Operasi Bariatrik dengan BMI Tinggi
Salah satu kelompok yang paling jelas adalah orang dengan BMI 35 atau lebih.
Pada tingkat obesitas ini, risiko berbagai masalah kesehatan cenderung meningkat. Karena itu, operasi bariatrik bisa dipertimbangkan sebagai bagian dari penanganan obesitas, bukan semata-mata untuk mendapatkan bentuk tubuh tertentu.
NIDDK juga menyebut BMI ≥40 sebagai salah satu kelompok yang dapat menjadi kandidat operasi, sementara BMI ≥35 dengan masalah kesehatan terkait obesitas juga menjadi indikasi yang umum digunakan.
Operasi Bariatrik untuk Obesitas dengan Penyakit Penyerta
Nah, bagian ini cukup penting.
Misalnya seseorang memiliki BMI 36 dan juga mengalami diabetes tipe 2 yang sulit dikontrol, sleep apnea, atau penyakit jantung yang berkaitan dengan obesitas. Kondisinya tentu berbeda dengan orang yang memiliki BMI sama tetapi tidak mengalami komplikasi tersebut.
Beberapa masalah kesehatan yang sering menjadi pertimbangan antara lain:
- Diabetes tipe 2
- Sleep apnea
- Hipertensi
- Penyakit jantung tertentu
- Gangguan metabolik
- Masalah sendi yang diperburuk oleh berat badan
Tujuan operasi bukan hanya “turun sekian kilogram”. Yang lebih penting adalah memperbaiki kondisi kesehatan dan kualitas hidup.
Apakah BMI 30 Sudah Bisa Operasi Bariatrik?
Jawabannya: bisa dipertimbangkan pada kondisi tertentu, tetapi bukan berarti semua orang dengan BMI 30 otomatis membutuhkan operasi.
Pedoman ASMBS/IFSO merekomendasikan metabolic surgery untuk pasien dengan diabetes tipe 2 dan BMI ≥30 kg/m². Untuk BMI 30–34,9 kg/m² tanpa hasil yang memadai dari penanganan nonbedah, operasi juga dapat dipertimbangkan secara selektif.
Ini salah satu alasan kenapa jangan menggunakan kalkulator BMI sebagai “vonis operasi”.
BMI hanyalah titik awal untuk berdiskusi dengan dokter.
Kesiapan Menjalani Operasi Sama Pentingnya
Ini bagian yang sering luput ketika orang membicarakan operasi bariatrik.
Operasinya memang dilakukan sekali, tetapi perubahan setelah operasi berlangsung bertahun-tahun.
Setelah operasi, pasien perlu menyesuaikan porsi makan, cara makan, aktivitas fisik, kontrol kesehatan, dan pada jenis prosedur tertentu membutuhkan suplemen vitamin serta mineral dalam jangka panjang. NIDDK juga menekankan pentingnya komitmen terhadap pola makan sehat, aktivitas fisik, kontrol medis, serta suplementasi setelah operasi.
Karena itu, orang yang secara medis memenuhi kriteria belum tentu langsung dinyatakan siap operasi.
Kesiapan Mental Sebelum Operasi Bariatrik
Operasi bariatrik bukan hanya urusan lambung. Hubungan seseorang dengan makanan, kebiasaan sehari-hari, ekspektasi terhadap hasil operasi, dan kemampuan beradaptasi juga perlu diperhatikan.
Pasien biasanya akan melalui evaluasi oleh beberapa tenaga kesehatan. Tim dapat melibatkan dokter, ahli gizi, psikolog atau psikiater, dan dokter bedah bariatrik.
Menurut saya, ini justru bagian yang bagus. Pasien tidak seharusnya hanya datang, ditimbang, lalu langsung masuk ruang operasi.
Kapan Sebaiknya Mulai Konsultasi?
Kalau berat badan sudah memengaruhi kesehatan dan berbagai cara yang dilakukan belum memberikan hasil yang bertahan lama, konsultasi dengan tim bariatrik layak dipertimbangkan.
Tidak perlu menunggu sampai kondisi terasa sangat parah.
Saat konsultasi, biasanya dokter akan melihat riwayat berat badan, BMI, penyakit penyerta, obat yang digunakan, pola makan, aktivitas, kondisi psikologis, hingga kesiapan mengikuti perawatan jangka panjang.
Bahkan jenis operasi juga tidak selalu sama. Gastric sleeve, gastric bypass, dan prosedur lainnya memiliki karakteristik serta pertimbangan masing-masing.
Jadi jangan datang dengan pola pikir, “Saya mau sleeve.” Lebih baik datang dengan pertanyaan, “Prosedur apa yang paling masuk akal untuk kondisi saya?”
Jangan Menentukan Kandidat Hanya dari Timbangan
Dua orang dengan berat badan dan BMI yang sama bisa memiliki kondisi kesehatan yang sangat berbeda.
Satu orang mungkin mengalami diabetes dan sleep apnea. Yang lain mungkin tidak memiliki komplikasi berarti. Belum lagi perbedaan usia, obat-obatan, riwayat operasi, kondisi psikologis, pola makan, dan kemampuan mengikuti kontrol setelah operasi.
Itulah sebabnya penilaian kandidat operasi bariatrik idealnya dilakukan oleh tim multidisiplin, bukan berdasarkan angka BMI saja. NICE juga merekomendasikan penilaian komprehensif oleh layanan spesialis yang melibatkan keahlian medis, nutrisi, psikologis, dan bedah.
Orang yang cocok menjalani operasi bariatrik bukan sekadar mereka yang ingin cepat kurus, tetapi mereka yang mengalami obesitas dan membutuhkan intervensi medis yang lebih kuat untuk memperbaiki kesehatan serta kualitas hidup. BMI, penyakit penyerta, riwayat usaha menurunkan berat badan, kondisi psikologis, dan kesiapan menjalani perubahan jangka panjang semuanya perlu dinilai bersama. Kalau Anda merasa sudah berada di titik di mana berat badan mulai mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari, konsultasi dengan tim bariatrik bisa menjadi langkah yang jauh lebih bijak daripada mencoba menentukan sendiri apakah Anda “cukup gemuk” untuk operasi.



